Sabtu, 28 November 2015

Dari Cianjur hingga Pelaminan Part 2

berlanjut dari cerita sebelumnya sodara-sodara Part 1

Alhamdulillah sampe juga, disitu kita bayar “retribusi bayangan” entahlah, menurutku itu bukan retribusi resmi, mungkin diada-adakan sama penduduk setempat.
“masih jauh dari sini kang?”
“ga jauh lagi Kang, naik ka luhur sakeudik”
“Nuhun kang”
weh masih naik lagi? tanyaku dalam hati. Sudahlah aku tak lagi memikirkan kapan sampai. Tapi untuk track tanjakan terakhir ini harus waspada, jalanan menanjak cukup tinggi ditambah kontur batu yang cukup besar. “Ta, gw turun aja ya jalanannya kayak gitu” tapi aku tak berdaya, Satta tak memberhentikan motornya dengan santai dy bilang “udah duduk aja, gpp”
Dan tibalah Kami di situs Gunung Padang, wahhhhh terus terang gw lagi-lagi terkejut, banyak aja yang touring kesini. jejeran motor-motor diparkir rapi, seketika jadi perhatian saat Satta parkir motornya karna kami cuma berdua dengan satu motor. hahaha
Aku berjalan menjauh dari parkiran, berdiri di depan loket retribusi sambil menunggu Satta. Dengan biaya Rp. 2.000,- saja kami sudah bisa masuk ke kawasan situs Gunung Padang. Aku berdiri dipercabangan 2 anak tangga, tanpa sengaja “menguping” pembicaraan pengunjung yang sama-sama bingung mau milih jalur yang mana.
“Jalur yang itu (sambil menunjuk jalur kiri) lebih deket tapi lebih tinggi tangganya, kalau yang ini (menunjuk jalur kanan) lebih banyak anak tangganya tapi lebih pendek neng” ucap Ibu-ibu disana.
Pendek tapi nyakitin *sedih klo inget mah*
“Anak gunung mah pilih yang kiri aja deh” dengan mantap Aku melangkah ke tangga kiri, diikuti Satta dan 2 laki-laki yang entah kenapa memilih jalur yang sama seperti kami. Aku terlalu bersemangat memerintahkan kakiku pindah dari tangga yang satu ke tangga yang lebih tinggi,deru jatungku berdebar lebih cepat dan belum terlalu tinggi aku sudah engap.

“Ta, bentar berhenti dulu”
“hahaha, engap dy. Lagian buru-buru. Sini tasnya gw yang bawa”
Deuhilah diketawain. Tapi lumayan sih tas nya jadi dibawain hahahaha.

Yes! Akhirnya sampe juga. Langsung disambut rumput hijau dengan banyak tumpukan  batu-batu yang menurutku berantakan. Karena track jalan yang extreme, aku memilih naik ke bagian yang agak atas, duduk dibawah pohon sambil ngemil. Waktu aku disana, aku kesulitan mencari orang untuk menjelaskan perihal itu, jadi terpaksa aku sinkronisasi apa yang aku liat disana sama info dari mbah google deh. hahaha
Oh iya, tau ga? Situs Gunung Padang ini situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Banyak ahli Arkeologi yang menyebut sebagai situs Megalitik terbesar di Asia Tenggara. Budaya Prasejarah berupa “bangunan” yang disusun dari tumpukan kolom-kolom yang dibangun berundak-undak.
Bukan maen, Situs peninggalan megalitikum terbesar se Asia tenggara dan elo ga tau kalo ada di Indonesia? Duh dek! Kebangetan…
ini lho situs megalitikumnya
Aku juga baru tau sih *tepokjidat* hahaha. di tanjakan terakhir itu namanya teras 1, agak naik sedikit tempat aku ngemil itu teras 2, kemudian naek sedikit undakan ada teras 3 hingga teras 5. Tapi batasan masing-masing teras kurasa kurang jelas.
Satta meninggalkan aku sendirian disitu, dy sudah sibuk jepret-jepret. Aku sih tinggal senyum aja di depan kamera. Hahaha. aduh perutku, aku lapar sehingga kami tidak lama berfoto diatas. Tak apa, yang penting kami sudah menghampiri teras 1 hingga teras 5. Hahaha

Dari sana kami tidak langsung pulang tapi mampir ke terowongan lampegan
Kawan, terowongan ini letaknya lebih dekat jalan utama, terowongan tertua di Indonesia. Saat Aku kesana terowongan ini sudah tidak berfungsi. Beberapa kali jalur kereta ini mengalami longsor maka pemerintah setempat menutup terowongan ini. Tahun 2001 mengalami longsor akibat gempa bumi, kemudian tahun 2006 kembali diperbaiki tapi belum kereta melewati terowongan yang baru lagi-lagi longsor. Selain fakta longsor aku juga mendengar banyak hal mistis disini. Sepintas yang kuingat saat menonton Om Tukul saat berkunjung kesana, hahahaha! Infonya bukan dari mbah Google tapi dari Om Tukul.
Aku tau setelah beberapa hari pulang dari sana, kata pendamping spiritualnya om Tukul disitu banyak hantunya. Mitos yang terkenal Misteri Nyi Ronggeng Sadea yang hilang saat diantar pulang selepas menghibur pejabat Belanda. Dan mitos ini turun temurun dipercayai masyarakat setempat. Huah ternyata begitu!!! *untung taunya setelah pulang dari sana, kenapa begitu?nanti saat usai ‘Senam Jantung’ betapa aku beruntungnya tidak tau info ini diawal*
Aku pernah dikirim foto bagian depan terowongan dari salah satu teman pejalan, epic fotonya. Entah lah taun berapa diambil. “Pokoknya gw harus foto didepan terowongan” ucapku membatin.
Jalan terus menurun, ikuti saja jalan utamanya, menurutku petunjuk ke terowongan Lampegan lebih jelas. Tak berselang lama, kami tiba di Terowongan itu. Pas sampe. Weh!!! Berbeda jauh dengan kondisi saat aku lihat. Banyak sekali vandalisme. Huhuhuhu lagi-lagi perilaku orang tak bertanggung jawab.
Udah niat foto di depan terowongan, eh pas sampe situ ada dua orang Bapak-bapak yang ngobrol pas banget di tengah-tengah pelataran depan tertowongan. yaelah Pa! ngobrolnya ngapa disitu dah. Eh ternyata ada 2 motor melintas didepan kami, memasuki terowongan itu. “oh, bisa dilewatin motor juga”

“eh, kesana aja yuk. Foto diseberang terowongan aja”
“nyok dah, Gw kudu foto disini” Secara penumpang mah ikut aja.
“permisi Pa”  kami melintas mulai memasuki dalam terowongan yang gelap dan ‘Senam Jantung’ pun dimulai. Koq ‘Senam Jantung, Cit?’ hehehe! Jadi begini sodara-sodara ceritanya *ehem, ehem*

Kami melintas dipinggiran badan rel sebelas kanan, kalian tau kan konstruksi pinggiran badan rel tidak seperti jalan beton yang halus dan rata, baja rel berselang dengan batu atau tanah. Seperti kalian melintas diatas polisi tidur kecil. sulitnya medan jalan *jalan kereta, tapi saya memaksa menyebut jalan*, ditambah bebatuan dengan air mengalir dipinggir rel. Entahlah air itu asalnya dari mana, tapi sepanjang rel ada air yang mengalir.. Tanpa disuruh diam, aku sudah membisu, Ya Tuhan, aku takut kalau-kalau tergelincir. Ku genggam pinggir jaket Satta, beberapa kali motor nyaris tergelincir, “Astagfirullah, pelan-pelan Ta”. Terowongan ini tak terlalu panjang, tapi sumpah naek motor melintas diterowongan ini berasa lama. Bukan maen!!!
Dari kejauhan ada cahaya terang, akhirnya ujung terowongan sodara-sodara. Huah, begitu sampe ujung Satta cuma ngomong ini perjalanan ter WOW. Hahahaha dan gw tetap diem. Lemes sodara-sadara. Hahaha!
Pias sudah mukaku, “takut ya?” ahh aku pun menggangguk. *tutup muka*
Gelap, dingin, medan jalan yang susah. Tidak direkomendasikan untuk mengikuti kami. Hahahaha! Demi foto ampe segitunya Cit, adaw sungguh, sungguh niat pake BANGET!!! Hahaha

Coba aku tau perihal mitos terowongan ini sebelum aku kesana, dijamin deh aku ga bakalan mau melintas terowongan itu. Untung taunya belakangan hahahaha.

“… Dan diantara sela hujan malam ini, suara ban mobil pada genangan air sangat kuat mengantarkan kenanganku padamu, teringat aku akan malam dimana hujan menjadi saksi saat kita duduk di daerah Cianjur, sama-sama malu untuk saling menatap dan saling diam sambil menikmati hujan yang turun begitu deras.
Oiya, Besok aku mau ke Bukit Tinggi, tempat dimana jam Gadang berdiri dengan gagahnya. Aku sering dengar kalau kamu mau kesana, hmm maaf sepertinya aku akan kesana duluan. Seperti juga aku yang lebih dulu mengunjungi Dewi Anjani di Lombok sana. Aku tau rencana awal kamu liburan akhir tahun ini untuk mendaki gunung Rinjani namun terhalang cuaca dan kamu memilih mendaki Gunung Arjuno. Ya begitulah Kasih, banyak rencana tapi tetap yang menentukan adalah takdir yang Kuasa. Seperti sekarang aku yang begitu dekat dengan kamu, tak pernah kita rencanakan bukan? ah sudahlah kasih, tak perlu membahas yang sudah-suda, sekarang sepertinya kita sudah berada dititik dimana persoalan itu terlihat begitu jelas, tentang apa yang akan kita lakukan setelah ini.”

Yayaya, aku ingat malam itu dalam perjalanan pulang,  aku yang sudah mulai lelah dan kedingingan karna hujan, Aku yang sudah mulai gelisah khawatir sampai rumah kemalaman. Aku tau diam-diam kamu memperhatikan aku, tapi maaf saat itu aku belum mau membalas tatapanmu ditengah derasnya hujan. Aku juga tak tau pertemuan Kita di rumah Dea tempo hari berlanjut trip demi trip lainnya, berlanjut hingga kita begitu dekat. Begitu dekat hingga jalinan kasih ini terjalin. Kamu benar itu takdir.
Suatu hari dy pernah bilang “Cinta kita kepada manusia tidak melebihi cinta kepada Tuhan meskipun Saya sendiri sering kebablasan padahal Tuhan juga Maha Pencemburu. Dan Jika suatu saat nanti Saya menikah ya itu semata untuk ibadah dan biarkan cinta Saya kepada manusia memang karena Gusti Allah. Dan Saya mau menua bareng kamu”
Biarlah kami berencana, urusan takdir aku percaya sudah ada yang mengatur. Buat ku pernikahan itu urusan yang sakral. Bukan hanya 2 insan yang menyatu tapi 2 keluarga besar menyatu. Aku sudah memutuskan berlabuh di satu pantai, ketika ratusan pantai nan eksotik begitu menggoda untuk kusinggahi. 
“Tuhan jaga cinta dy untuk hamba, jaga cinta kami yang tidak sedikitpun lebih besar dari cinta kami kepada Mu”

Agustus 2014 beberapa hari setelah pertunangan kami dilakukan

Dari Cianjur hingga Pelaminan

setelah vakum sekian lama dan penulis bingung harus mulai nulis dari cerita yang mana jadi secara random saya pilih tulisan ini *berdasar repost dari trip situs gunung padang *



“…Jambi ditengah gerimis, di sebuah bangku samping jendela kamar sewaan. Masih kunikmati secangkir kopi hitam buatan ibu pemilik homestay ini. Kasih, pahitnya kurasa hampir menyamai kopi bawaan mu dari Makassar tempo hari itu, kalau aku boleh beralibi, kopi ini ingatkan aku akan kamu. Sedang apa kamu malam ini? Apa kamu sedang beredar diantara kilauan lampu di Batu Night Spectacular? Dengan kabut yang membuat dengus nafasmu Nampak berasap, atau kamu sudah tenang dalam selimut di dinginnya kota Malang? Entahlah aku tak tau.
Kasih, apa kamu tau? Sudah beberapa hari ini Jambi dikepung hujan yang membuat dinginnya seperti malam saat kita di Mandalawangi, saat itupun aku teringat kamu yang tahan dengan belaian dingin, saat tanganmu membeku bak es adakah yang menggengam??”

Email yang aku terima dari seorang laki-laki saat aku kembali ke Jakarta.
Kuterima suratmu, t’lah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu, akan hadirnya diriku,didalam hari-harimu,bersama lagi..
Kau bertanya padaku,kapan aku akan kembali lagi.
Katamu kau tak kuasa,
melawan gejolak di dalam dada yang membara menahan rasa, pertemuan kita nanti.
Saat kau ada disisiku
Dewa 19- kangen

Nyesss!!! Lagu itu.. *bahu mana bahu*. Masih terus ku baca email itu semakin ku baca semakin sesak kawan!! kolaborasi email dari laki-laki itu dan lagu Dewa sukses memcabik hatiku dan pikiranku dipenuhi kenangan kami beberapa bulan silam. Dalam diam tanpa aku sadari, pipiku basah tapi bibirku tanpa ragu tersenyum. Entahlah aku sedih atau aku bahagia, yang jelas aku merindu dy.
10 hari aku melangkah ke daerah timur dan dy memilih mendaki gunung berapi tertinggi di Indonesia. Ah aku tak mau membahas liburan aku atau liburan dy. Aku Cuma mau bahas kami. Aku jadi ingat dulu, saat kami saling memanggil dengan sebutan elo dan gw dan kini berubah menjadi aku dan kamu, September lalu puzzle cerita kami dimulai, ihiy..

‘Cit, spot foto yang cihuy dimana? Buat foto prewed temen. Foto loe yang di dp BB dimana thu?”
“itu di Pura Jagakarta – Bogor, itu sih Bali KW 2. Hahaha! Kata temen gw di daerah Cianjur juga bagus thu.”
“Di Cianjur apaan?”
“Situs Gunung Padang, Terowongan Lampegan sama Curug Cikondang”
“Oh boleh deh kesana”

Ribet masalah hari buat jalan antara Sabtu atau Minggu dan pada akhirnya kita jalan hari minggu, itu sohibah-sohibah saya sebut saja namanya Jaya dan Setta yang kabarnya mau ikut tapi mendekati hari keberangkatan ternyata mereka ga bisa ikut, sempet ragu sih, berduaan doang nih? Ahh sudahlah kejiwaan sedikit goyah kalo ga ngetrip. Berangkat aja Hahaha! Cuma satta yang beruntung bisa jalan sama gw. Yang lain kerja aja yang rajin  Hidup Lembur!!! *horey*
Dari awal emang niat pake motor, saya tebengkers aja. Janjian jalan jam 8 lewat dari rumah gw, Satta jemput kerumah, pamitan sama ibu dirumah dan kita langsung capcus ke Cianjur. Dengan polos sebagai penumpang ya saya mah anteng aja, terserah dah gimana yang bawa motor aja.hahaha!

“Lewat mana nih?”
“Lah terserah elo, gw mah ga tau jalan”

Satta melintas di Jalan Raya Jakarta-Bogor melaju dengan kecepatan stabil menikung di jalan alternatif Sentul memasuki jalan yang menuju Bukit Bintang. Pas sampe Bukit Bintang sesaat terlintas “ini kalo malem pasti city lightnya keren deh” Aku membatin, eh entah dapet kontak apa, tiba-tiba Satta bilang “Keren nih kalo malem,dulu pernah lewat sini waktu mau ke Cibodas” dan mulut gw pun bersahut “iya, keren kali ya kalo malem”
Sepanjang jalan ngobrolin macem-macem, mulai dari kontur jalan, angin di jalan, sampe ngegodain pasangan yang pacaran dipinggir jalan. hahaha Dan keluar lah kami di Jalan raya Puncak. Matahari semakin tinggi, panas sodara-sodara dan jalanan tak lagi lenggang seperti tadi. Satta tetap melaju ditengah kemacetan jalan raya Puncak.

            “berhenti dulu ya, gw ngantuk”
            “yailah ntar makin panas nih”
            “gpp, dibanding gw ngantuk”

Berhentilah kami diwarung kopi pinggir jalan raya Puncak, Satta pesen kopi hitam, Citra mah air mineral aja.

            “Ta, loe tau situs gunung Padang?”
            “Ga tau, tapi kata temen gw pas sampe perempatan jalan antara Bandung sama Sukabumi lurus aja kearah Sukabumi”
“Gw malah taunya Cuma sampe Cipanas, biasanya kalo nanjak Gunung Gede gw sama temen-temen naro motor di rumah Jeni, rumahnya ga jauh dari Istana Presiden yang di Cipanas”
Kopi sudah habis perjalanan dilanjutkan, masih ngikutin jalan raya Puncak, melintas di Cisarua, Cibodas, Cipanas dan Cianjur. Jalanannya sih aman-aman aja, yang ga aman bumper belakang gw nih. Huah mulai pegel. Hahahaha! Tapi perjalanan belum juga selesai sodara-sodara. Dan tibalah kami di perempatan Bandung dan Sukabumi.
“Gw Cuma tau sampe sini,pokoknya kearah Sukabumi kata temen gw ada Planknya gede” celoteh Satta.

Baiklah tanpa komando, gw langsung merhatiin marka jalan plus tanda petunjuk kali-kali ada yang mengarah ke Situs gunung Padang. Tengok kanan, tengok kiri dan belum nemu juga.
“kata temen gw jalannya 98% tau dah 98% bagus atau jelek” hahaha dy pun tertawa.
Jalan terus tetap aja ga nemu-nemu plank situs gunung padang. Mata tetap awas mengamati marka jalan tapi tetap weh ga nemu.
“Jauh banget ya Ta, nanya orang deh”
Akhirnya Satta dengan kemampuan bahasa sundanya yang fasih nanya sama anak-anak SD dipinggir jalan. Entahlah aku roaming. Aku cuma ngerti pas si anak bilang “Jalanannya Butut a” hahaha seketika ngakak sodara-sodara.

apa jalannya Butut?” Kita buktikan nanti. Itung-itung verifikasi omongan “98%” info temennya Satta
situs Megalith - Cianjur
Sesuai petunjuk arah dari si anak, dari tempat kita nanya masih lurus terus sampe nanti ketemu masjid di kiri jalan, nah belok situ. Bener aja ga jauh dari situ kita nemu plank SITUS MEGALITIKUM GUNUNG PADANG, belok deh ke kiri. Oke kita mulai uji perihal 98%.
Menikung ke kiri, dan jreng-jreng gw langsung terkejut! Kami disambut jalan rusak.. bah!! Apa ini? Kuduga pasti maksud temennya 98% jalannya butut.. Jalan Aspal yang sudah tak layak disebut aspal, lubang dimana-mana, kala itu jalanan pun becek, jalanan bercampur tanah cukup membuatku bete. “Ta, jalannya ampun dah” yang diajakin ngomong cuma ketawa doang. Hadaw

“duhilah, ini penumpang berisik aja, gw lagi konsentrasi bawa motor nih” hahahaha

Bukan maen, jalanan tetap jelek dan ternyata dari depan jalan utama untuk menuju Gunung Padang cukup jauh. Jalanan menanjak dan acap kali saya berdoa “semoga motornya kuat” hahahaha Hingga tibalah kami diantara lukisan alam sang Maha Kuasa diantara jalannya yang tak lagi mulus.
Aku tak lagi sempat protes saat motor melaju dengan perlahan, Hemmmm aku lupa kalau tadi aku protes soal jalanan yang rusak, protes karena kepanasan, protes karena tak kunjung sampai. ahh sekarang mata ku sibuk menoleh ke kiri dan kanan, ku buka helm yang ku pakai. Sengaja benar aku membiarkan rambutku diterpa angin dingin, kubiarkan mataku dimanjakan hijaunya perkebunan teh. Aku tak lagi butuh masker disini, biarlah paru-paruku menghirup udara ini tanpa filter.


Oh Guys, Cianjur punya tempat kayak gini, kemana aja loe sampe ga tau ada spot cihuy kayak gini? Deg!