Sabtu, 28 November 2015

Dari Cianjur hingga Pelaminan Part 2

berlanjut dari cerita sebelumnya sodara-sodara Part 1

Alhamdulillah sampe juga, disitu kita bayar “retribusi bayangan” entahlah, menurutku itu bukan retribusi resmi, mungkin diada-adakan sama penduduk setempat.
“masih jauh dari sini kang?”
“ga jauh lagi Kang, naik ka luhur sakeudik”
“Nuhun kang”
weh masih naik lagi? tanyaku dalam hati. Sudahlah aku tak lagi memikirkan kapan sampai. Tapi untuk track tanjakan terakhir ini harus waspada, jalanan menanjak cukup tinggi ditambah kontur batu yang cukup besar. “Ta, gw turun aja ya jalanannya kayak gitu” tapi aku tak berdaya, Satta tak memberhentikan motornya dengan santai dy bilang “udah duduk aja, gpp”
Dan tibalah Kami di situs Gunung Padang, wahhhhh terus terang gw lagi-lagi terkejut, banyak aja yang touring kesini. jejeran motor-motor diparkir rapi, seketika jadi perhatian saat Satta parkir motornya karna kami cuma berdua dengan satu motor. hahaha
Aku berjalan menjauh dari parkiran, berdiri di depan loket retribusi sambil menunggu Satta. Dengan biaya Rp. 2.000,- saja kami sudah bisa masuk ke kawasan situs Gunung Padang. Aku berdiri dipercabangan 2 anak tangga, tanpa sengaja “menguping” pembicaraan pengunjung yang sama-sama bingung mau milih jalur yang mana.
“Jalur yang itu (sambil menunjuk jalur kiri) lebih deket tapi lebih tinggi tangganya, kalau yang ini (menunjuk jalur kanan) lebih banyak anak tangganya tapi lebih pendek neng” ucap Ibu-ibu disana.
Pendek tapi nyakitin *sedih klo inget mah*
“Anak gunung mah pilih yang kiri aja deh” dengan mantap Aku melangkah ke tangga kiri, diikuti Satta dan 2 laki-laki yang entah kenapa memilih jalur yang sama seperti kami. Aku terlalu bersemangat memerintahkan kakiku pindah dari tangga yang satu ke tangga yang lebih tinggi,deru jatungku berdebar lebih cepat dan belum terlalu tinggi aku sudah engap.

“Ta, bentar berhenti dulu”
“hahaha, engap dy. Lagian buru-buru. Sini tasnya gw yang bawa”
Deuhilah diketawain. Tapi lumayan sih tas nya jadi dibawain hahahaha.

Yes! Akhirnya sampe juga. Langsung disambut rumput hijau dengan banyak tumpukan  batu-batu yang menurutku berantakan. Karena track jalan yang extreme, aku memilih naik ke bagian yang agak atas, duduk dibawah pohon sambil ngemil. Waktu aku disana, aku kesulitan mencari orang untuk menjelaskan perihal itu, jadi terpaksa aku sinkronisasi apa yang aku liat disana sama info dari mbah google deh. hahaha
Oh iya, tau ga? Situs Gunung Padang ini situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Banyak ahli Arkeologi yang menyebut sebagai situs Megalitik terbesar di Asia Tenggara. Budaya Prasejarah berupa “bangunan” yang disusun dari tumpukan kolom-kolom yang dibangun berundak-undak.
Bukan maen, Situs peninggalan megalitikum terbesar se Asia tenggara dan elo ga tau kalo ada di Indonesia? Duh dek! Kebangetan…
ini lho situs megalitikumnya
Aku juga baru tau sih *tepokjidat* hahaha. di tanjakan terakhir itu namanya teras 1, agak naik sedikit tempat aku ngemil itu teras 2, kemudian naek sedikit undakan ada teras 3 hingga teras 5. Tapi batasan masing-masing teras kurasa kurang jelas.
Satta meninggalkan aku sendirian disitu, dy sudah sibuk jepret-jepret. Aku sih tinggal senyum aja di depan kamera. Hahaha. aduh perutku, aku lapar sehingga kami tidak lama berfoto diatas. Tak apa, yang penting kami sudah menghampiri teras 1 hingga teras 5. Hahaha

Dari sana kami tidak langsung pulang tapi mampir ke terowongan lampegan
Kawan, terowongan ini letaknya lebih dekat jalan utama, terowongan tertua di Indonesia. Saat Aku kesana terowongan ini sudah tidak berfungsi. Beberapa kali jalur kereta ini mengalami longsor maka pemerintah setempat menutup terowongan ini. Tahun 2001 mengalami longsor akibat gempa bumi, kemudian tahun 2006 kembali diperbaiki tapi belum kereta melewati terowongan yang baru lagi-lagi longsor. Selain fakta longsor aku juga mendengar banyak hal mistis disini. Sepintas yang kuingat saat menonton Om Tukul saat berkunjung kesana, hahahaha! Infonya bukan dari mbah Google tapi dari Om Tukul.
Aku tau setelah beberapa hari pulang dari sana, kata pendamping spiritualnya om Tukul disitu banyak hantunya. Mitos yang terkenal Misteri Nyi Ronggeng Sadea yang hilang saat diantar pulang selepas menghibur pejabat Belanda. Dan mitos ini turun temurun dipercayai masyarakat setempat. Huah ternyata begitu!!! *untung taunya setelah pulang dari sana, kenapa begitu?nanti saat usai ‘Senam Jantung’ betapa aku beruntungnya tidak tau info ini diawal*
Aku pernah dikirim foto bagian depan terowongan dari salah satu teman pejalan, epic fotonya. Entah lah taun berapa diambil. “Pokoknya gw harus foto didepan terowongan” ucapku membatin.
Jalan terus menurun, ikuti saja jalan utamanya, menurutku petunjuk ke terowongan Lampegan lebih jelas. Tak berselang lama, kami tiba di Terowongan itu. Pas sampe. Weh!!! Berbeda jauh dengan kondisi saat aku lihat. Banyak sekali vandalisme. Huhuhuhu lagi-lagi perilaku orang tak bertanggung jawab.
Udah niat foto di depan terowongan, eh pas sampe situ ada dua orang Bapak-bapak yang ngobrol pas banget di tengah-tengah pelataran depan tertowongan. yaelah Pa! ngobrolnya ngapa disitu dah. Eh ternyata ada 2 motor melintas didepan kami, memasuki terowongan itu. “oh, bisa dilewatin motor juga”

“eh, kesana aja yuk. Foto diseberang terowongan aja”
“nyok dah, Gw kudu foto disini” Secara penumpang mah ikut aja.
“permisi Pa”  kami melintas mulai memasuki dalam terowongan yang gelap dan ‘Senam Jantung’ pun dimulai. Koq ‘Senam Jantung, Cit?’ hehehe! Jadi begini sodara-sodara ceritanya *ehem, ehem*

Kami melintas dipinggiran badan rel sebelas kanan, kalian tau kan konstruksi pinggiran badan rel tidak seperti jalan beton yang halus dan rata, baja rel berselang dengan batu atau tanah. Seperti kalian melintas diatas polisi tidur kecil. sulitnya medan jalan *jalan kereta, tapi saya memaksa menyebut jalan*, ditambah bebatuan dengan air mengalir dipinggir rel. Entahlah air itu asalnya dari mana, tapi sepanjang rel ada air yang mengalir.. Tanpa disuruh diam, aku sudah membisu, Ya Tuhan, aku takut kalau-kalau tergelincir. Ku genggam pinggir jaket Satta, beberapa kali motor nyaris tergelincir, “Astagfirullah, pelan-pelan Ta”. Terowongan ini tak terlalu panjang, tapi sumpah naek motor melintas diterowongan ini berasa lama. Bukan maen!!!
Dari kejauhan ada cahaya terang, akhirnya ujung terowongan sodara-sodara. Huah, begitu sampe ujung Satta cuma ngomong ini perjalanan ter WOW. Hahahaha dan gw tetap diem. Lemes sodara-sadara. Hahaha!
Pias sudah mukaku, “takut ya?” ahh aku pun menggangguk. *tutup muka*
Gelap, dingin, medan jalan yang susah. Tidak direkomendasikan untuk mengikuti kami. Hahahaha! Demi foto ampe segitunya Cit, adaw sungguh, sungguh niat pake BANGET!!! Hahaha

Coba aku tau perihal mitos terowongan ini sebelum aku kesana, dijamin deh aku ga bakalan mau melintas terowongan itu. Untung taunya belakangan hahahaha.

“… Dan diantara sela hujan malam ini, suara ban mobil pada genangan air sangat kuat mengantarkan kenanganku padamu, teringat aku akan malam dimana hujan menjadi saksi saat kita duduk di daerah Cianjur, sama-sama malu untuk saling menatap dan saling diam sambil menikmati hujan yang turun begitu deras.
Oiya, Besok aku mau ke Bukit Tinggi, tempat dimana jam Gadang berdiri dengan gagahnya. Aku sering dengar kalau kamu mau kesana, hmm maaf sepertinya aku akan kesana duluan. Seperti juga aku yang lebih dulu mengunjungi Dewi Anjani di Lombok sana. Aku tau rencana awal kamu liburan akhir tahun ini untuk mendaki gunung Rinjani namun terhalang cuaca dan kamu memilih mendaki Gunung Arjuno. Ya begitulah Kasih, banyak rencana tapi tetap yang menentukan adalah takdir yang Kuasa. Seperti sekarang aku yang begitu dekat dengan kamu, tak pernah kita rencanakan bukan? ah sudahlah kasih, tak perlu membahas yang sudah-suda, sekarang sepertinya kita sudah berada dititik dimana persoalan itu terlihat begitu jelas, tentang apa yang akan kita lakukan setelah ini.”

Yayaya, aku ingat malam itu dalam perjalanan pulang,  aku yang sudah mulai lelah dan kedingingan karna hujan, Aku yang sudah mulai gelisah khawatir sampai rumah kemalaman. Aku tau diam-diam kamu memperhatikan aku, tapi maaf saat itu aku belum mau membalas tatapanmu ditengah derasnya hujan. Aku juga tak tau pertemuan Kita di rumah Dea tempo hari berlanjut trip demi trip lainnya, berlanjut hingga kita begitu dekat. Begitu dekat hingga jalinan kasih ini terjalin. Kamu benar itu takdir.
Suatu hari dy pernah bilang “Cinta kita kepada manusia tidak melebihi cinta kepada Tuhan meskipun Saya sendiri sering kebablasan padahal Tuhan juga Maha Pencemburu. Dan Jika suatu saat nanti Saya menikah ya itu semata untuk ibadah dan biarkan cinta Saya kepada manusia memang karena Gusti Allah. Dan Saya mau menua bareng kamu”
Biarlah kami berencana, urusan takdir aku percaya sudah ada yang mengatur. Buat ku pernikahan itu urusan yang sakral. Bukan hanya 2 insan yang menyatu tapi 2 keluarga besar menyatu. Aku sudah memutuskan berlabuh di satu pantai, ketika ratusan pantai nan eksotik begitu menggoda untuk kusinggahi. 
“Tuhan jaga cinta dy untuk hamba, jaga cinta kami yang tidak sedikitpun lebih besar dari cinta kami kepada Mu”

Agustus 2014 beberapa hari setelah pertunangan kami dilakukan

Dari Cianjur hingga Pelaminan

setelah vakum sekian lama dan penulis bingung harus mulai nulis dari cerita yang mana jadi secara random saya pilih tulisan ini *berdasar repost dari trip situs gunung padang *



“…Jambi ditengah gerimis, di sebuah bangku samping jendela kamar sewaan. Masih kunikmati secangkir kopi hitam buatan ibu pemilik homestay ini. Kasih, pahitnya kurasa hampir menyamai kopi bawaan mu dari Makassar tempo hari itu, kalau aku boleh beralibi, kopi ini ingatkan aku akan kamu. Sedang apa kamu malam ini? Apa kamu sedang beredar diantara kilauan lampu di Batu Night Spectacular? Dengan kabut yang membuat dengus nafasmu Nampak berasap, atau kamu sudah tenang dalam selimut di dinginnya kota Malang? Entahlah aku tak tau.
Kasih, apa kamu tau? Sudah beberapa hari ini Jambi dikepung hujan yang membuat dinginnya seperti malam saat kita di Mandalawangi, saat itupun aku teringat kamu yang tahan dengan belaian dingin, saat tanganmu membeku bak es adakah yang menggengam??”

Email yang aku terima dari seorang laki-laki saat aku kembali ke Jakarta.
Kuterima suratmu, t’lah kubaca dan aku mengerti
Betapa merindunya dirimu, akan hadirnya diriku,didalam hari-harimu,bersama lagi..
Kau bertanya padaku,kapan aku akan kembali lagi.
Katamu kau tak kuasa,
melawan gejolak di dalam dada yang membara menahan rasa, pertemuan kita nanti.
Saat kau ada disisiku
Dewa 19- kangen

Nyesss!!! Lagu itu.. *bahu mana bahu*. Masih terus ku baca email itu semakin ku baca semakin sesak kawan!! kolaborasi email dari laki-laki itu dan lagu Dewa sukses memcabik hatiku dan pikiranku dipenuhi kenangan kami beberapa bulan silam. Dalam diam tanpa aku sadari, pipiku basah tapi bibirku tanpa ragu tersenyum. Entahlah aku sedih atau aku bahagia, yang jelas aku merindu dy.
10 hari aku melangkah ke daerah timur dan dy memilih mendaki gunung berapi tertinggi di Indonesia. Ah aku tak mau membahas liburan aku atau liburan dy. Aku Cuma mau bahas kami. Aku jadi ingat dulu, saat kami saling memanggil dengan sebutan elo dan gw dan kini berubah menjadi aku dan kamu, September lalu puzzle cerita kami dimulai, ihiy..

‘Cit, spot foto yang cihuy dimana? Buat foto prewed temen. Foto loe yang di dp BB dimana thu?”
“itu di Pura Jagakarta – Bogor, itu sih Bali KW 2. Hahaha! Kata temen gw di daerah Cianjur juga bagus thu.”
“Di Cianjur apaan?”
“Situs Gunung Padang, Terowongan Lampegan sama Curug Cikondang”
“Oh boleh deh kesana”

Ribet masalah hari buat jalan antara Sabtu atau Minggu dan pada akhirnya kita jalan hari minggu, itu sohibah-sohibah saya sebut saja namanya Jaya dan Setta yang kabarnya mau ikut tapi mendekati hari keberangkatan ternyata mereka ga bisa ikut, sempet ragu sih, berduaan doang nih? Ahh sudahlah kejiwaan sedikit goyah kalo ga ngetrip. Berangkat aja Hahaha! Cuma satta yang beruntung bisa jalan sama gw. Yang lain kerja aja yang rajin  Hidup Lembur!!! *horey*
Dari awal emang niat pake motor, saya tebengkers aja. Janjian jalan jam 8 lewat dari rumah gw, Satta jemput kerumah, pamitan sama ibu dirumah dan kita langsung capcus ke Cianjur. Dengan polos sebagai penumpang ya saya mah anteng aja, terserah dah gimana yang bawa motor aja.hahaha!

“Lewat mana nih?”
“Lah terserah elo, gw mah ga tau jalan”

Satta melintas di Jalan Raya Jakarta-Bogor melaju dengan kecepatan stabil menikung di jalan alternatif Sentul memasuki jalan yang menuju Bukit Bintang. Pas sampe Bukit Bintang sesaat terlintas “ini kalo malem pasti city lightnya keren deh” Aku membatin, eh entah dapet kontak apa, tiba-tiba Satta bilang “Keren nih kalo malem,dulu pernah lewat sini waktu mau ke Cibodas” dan mulut gw pun bersahut “iya, keren kali ya kalo malem”
Sepanjang jalan ngobrolin macem-macem, mulai dari kontur jalan, angin di jalan, sampe ngegodain pasangan yang pacaran dipinggir jalan. hahaha Dan keluar lah kami di Jalan raya Puncak. Matahari semakin tinggi, panas sodara-sodara dan jalanan tak lagi lenggang seperti tadi. Satta tetap melaju ditengah kemacetan jalan raya Puncak.

            “berhenti dulu ya, gw ngantuk”
            “yailah ntar makin panas nih”
            “gpp, dibanding gw ngantuk”

Berhentilah kami diwarung kopi pinggir jalan raya Puncak, Satta pesen kopi hitam, Citra mah air mineral aja.

            “Ta, loe tau situs gunung Padang?”
            “Ga tau, tapi kata temen gw pas sampe perempatan jalan antara Bandung sama Sukabumi lurus aja kearah Sukabumi”
“Gw malah taunya Cuma sampe Cipanas, biasanya kalo nanjak Gunung Gede gw sama temen-temen naro motor di rumah Jeni, rumahnya ga jauh dari Istana Presiden yang di Cipanas”
Kopi sudah habis perjalanan dilanjutkan, masih ngikutin jalan raya Puncak, melintas di Cisarua, Cibodas, Cipanas dan Cianjur. Jalanannya sih aman-aman aja, yang ga aman bumper belakang gw nih. Huah mulai pegel. Hahahaha! Tapi perjalanan belum juga selesai sodara-sodara. Dan tibalah kami di perempatan Bandung dan Sukabumi.
“Gw Cuma tau sampe sini,pokoknya kearah Sukabumi kata temen gw ada Planknya gede” celoteh Satta.

Baiklah tanpa komando, gw langsung merhatiin marka jalan plus tanda petunjuk kali-kali ada yang mengarah ke Situs gunung Padang. Tengok kanan, tengok kiri dan belum nemu juga.
“kata temen gw jalannya 98% tau dah 98% bagus atau jelek” hahaha dy pun tertawa.
Jalan terus tetap aja ga nemu-nemu plank situs gunung padang. Mata tetap awas mengamati marka jalan tapi tetap weh ga nemu.
“Jauh banget ya Ta, nanya orang deh”
Akhirnya Satta dengan kemampuan bahasa sundanya yang fasih nanya sama anak-anak SD dipinggir jalan. Entahlah aku roaming. Aku cuma ngerti pas si anak bilang “Jalanannya Butut a” hahaha seketika ngakak sodara-sodara.

apa jalannya Butut?” Kita buktikan nanti. Itung-itung verifikasi omongan “98%” info temennya Satta
situs Megalith - Cianjur
Sesuai petunjuk arah dari si anak, dari tempat kita nanya masih lurus terus sampe nanti ketemu masjid di kiri jalan, nah belok situ. Bener aja ga jauh dari situ kita nemu plank SITUS MEGALITIKUM GUNUNG PADANG, belok deh ke kiri. Oke kita mulai uji perihal 98%.
Menikung ke kiri, dan jreng-jreng gw langsung terkejut! Kami disambut jalan rusak.. bah!! Apa ini? Kuduga pasti maksud temennya 98% jalannya butut.. Jalan Aspal yang sudah tak layak disebut aspal, lubang dimana-mana, kala itu jalanan pun becek, jalanan bercampur tanah cukup membuatku bete. “Ta, jalannya ampun dah” yang diajakin ngomong cuma ketawa doang. Hadaw

“duhilah, ini penumpang berisik aja, gw lagi konsentrasi bawa motor nih” hahahaha

Bukan maen, jalanan tetap jelek dan ternyata dari depan jalan utama untuk menuju Gunung Padang cukup jauh. Jalanan menanjak dan acap kali saya berdoa “semoga motornya kuat” hahahaha Hingga tibalah kami diantara lukisan alam sang Maha Kuasa diantara jalannya yang tak lagi mulus.
Aku tak lagi sempat protes saat motor melaju dengan perlahan, Hemmmm aku lupa kalau tadi aku protes soal jalanan yang rusak, protes karena kepanasan, protes karena tak kunjung sampai. ahh sekarang mata ku sibuk menoleh ke kiri dan kanan, ku buka helm yang ku pakai. Sengaja benar aku membiarkan rambutku diterpa angin dingin, kubiarkan mataku dimanjakan hijaunya perkebunan teh. Aku tak lagi butuh masker disini, biarlah paru-paruku menghirup udara ini tanpa filter.


Oh Guys, Cianjur punya tempat kayak gini, kemana aja loe sampe ga tau ada spot cihuy kayak gini? Deg! 

Sabtu, 07 Juni 2014

Surabaya *LONG TRIP*

Rangkaian pertama long trip akhir taun 2013 itu sebenarnya Depok – Jakarta – Surabaya – Lawang – Malang – Batu – Surabaya – Jakarta – Depok.. hehehehe! Panjang ya jalan-jalannya.. yuk mari! total liburan gw sekitar 8 hari. 

Tujuan utama long trip ini pada dasarnya memang Pendakian tapi awalnya bukan ke Gn. Arjuno tapi ke Gn. Argopuro berhubung ada halangan berarti jadilah kami melipir ke Gn. Arjuno. Estimasi awal untuk ngetrack ke Gn. Argopuro butuh waktu sekitar 5 hari (hanya untuk pendakian) makanya untuk amannya kita beli tiket di tanggal 24 dan 31 Desember 2013. 

Pembatalan keberangkatan ke Argopuro sebulan sebelum pendakian, sempet ada kepikiran “apa diem aja dirumah ya?” ada juga ajakan ke Sindoro sama ke Prau juga, trus ada juga ajakan ke Arjuno, dan yang paling kompor ajakan ke Kerinci. 

Diskusi sama 2 temen yang bakal berangkat sama gw, mereka seperti biasa “kemana aja oke pasti ikut” hahaha! Ternyata kompor dari pacar ngena banget. Ogut disuruh ikut rombongan Keluarga Dea ke Arjuno, secara orang-orangnya juga udah kenal. *begitu kata dy*

Baiklah Confirm keikutsertaan pendakian ke Keluarga Dea dengan Tujuan pemberangkatan Gn. Arjuno. Hahaha!! 

24 Desember 2013
Meet point pertama  Stasiun Senen.
Jam 11 siang gw berangkat dari rumah dianter aa Satta ke sana, terlalu cepat? Ahh tidak karena saya ada janji ketemu seorang saudara di sana. Mb Dwi saudara jauh gw juga mau nanjak dan katanya berangkat ditanggal yang sama. Jadi sambil nunggu 2 sahabat gw datang, ya gw ngobrol-ngobrol dulu sama mb Dwi *Silahturahmi*

Edun datang ga lama setelah gw datang, seperti biasa janjian bertiga yang telat pasti Yunie.  Begitu sampe si Yunie sempet-sempetnya makan es Krim dulu. Hahahaha!

Masya Allah yang antri buat masuk ke Peron bukan maen panjangnya kayak ngantri sembako. Baiklah ga ada pilihan lain selain ikut ngantri. Berdesakan dan cukup membuat saya berkeringat. Akhirnya masuk juga deh kita. 

Pas masuk ke Jalur kereta, ternyata ketemu mb Cici. Seorang teman dari mb Dwi. Seperti biasa kami saling berbincang dan berfoto bersama hahaha! Tapi saya lupa, ternyata fotonya ada di Handphone mb Dwi bukan di Kamera saya, jadi saya tidak punya bukti autentik pertemuan kita di sana. *halah*



Foto di stasiun, masih rapi + wangi hahhaaa

Kereta pun melaju ke Surabaya, kegiatan di kereta ya seperti biasa standar. Sedikit menggelitik saat Kereta berhenti di Stasiun Cirebon. 


 
Saat itu saya baru bangun tidur, ya maklum suasana  diluar kereta hujan jadilah saya tertidur hahaha. Trus ngeliat sekitar pada makan nasi bungkus, seketika ngelirik Edun.

“Dun, ga beli nasi?”
“u ga liat apa baju gw udah basah gini, ngantri gila cuy” gitu kata Edun

Yahhh gagal dah makan nasi bungkus Cirebon *gitu yang terlintas dipikiran gw*
Masih tetap ngobrol dengan topik yang lain, eh tiba-tiba dipotong sama pertanyaan Edun.

“Cit, u mau makan?”
“Mau dah, abis itu nasi bungkus menggugah hasrat gw buat makan hahahaha!”

Edun akhirnya berlari menerobos hujan, ga lama setelah Edun berlari eh bunyi klakson Kereta. Seketika kita panik, khawatir Edun ketinggalan kereta. 

Telepon ceu telepon, yasalam ternyata Handphonenya Edun digeletakin aja di Kursi kereta hahahaha!
Kita dari dalam kereta liat si Edun lari-lari, hhahaha ada ikan pesut lari-lari hahahaa!

Sampe kereta si edun cerita, “gila gw kira ini kereta udah mau jalan, gw suruh ibu-ibunya cepet-cepet”
Si ibu penjual nasi bukan cepet-cepet malah bilang “santai aja mas santai”
“bukannya ngasih gw kembalian, masih aja thu ibu nyeramahin gw” hahahahaa
Hahahaha seketika ngakak gara-gara cerita si Edun. 

Balik kerutinitas standar, makan-tidur-ngobrol aja. Edun tiduran di bangku 3, gw sama yunie masih sering bangun buat ngobrol. Jam 12 Yunie gentian tidur di tempat Edun.

Memasuki stasiun Cepu banyak pedagang yang masuk, biasa lah NASI PECEL. Dan seperti biasa gw mah beli makanan dan seperti biasa juga si Edun siap sedia HOOH MAU. Hahahaha

Kita beli 2 karna si Yunie tidur, eh ga lama si Yunie Bangun mungkin doi signal kuat kalo ada makanan. Dan seperti biasa langsung makan juga dy hahaahaha!

Abis makan giliran gw yang tidur, dan ga terasa kereta memasuki Stasiun Pasar Turi Surabaya sekitar jam 3 pagi. Turun kereta langsung cari spot enak buat nunggu. Menunggu jemputan hohoho

Tak berselang lama azan subuh berkumandang, baiklah solat dulu sembari menunggu (lagi). Beres solat ternyata kata mb Dwi ada Adit yang nunggu di depan Indomaret. Yuk mari keluar, benar ternyata Adit sudah menunggu didepan sana.

Ngobrol disertai sedikit tawaan, eh ada yang manggil Citno. Jreng,jreng ada Rendy sodara-sodara.  “kamu dijemput siapa?” celoteh dy tanpa sebelumnya sempat memperkenalkan diri hahaha
“dijemput kang Udin”
“oh Mas Ian juga mau kesini katanya sama satu lagi ada temenku”
Sekitar jam 04.30 mas Ian bilang ada di depan, yuk ah samperin keluar.
“Ian”
:Citra, Yunie, Edun” masing –masing memperkenalkan dirinya. Hahaha!

Tak usah heran, sering kali saya bertemu sahabat-sahabat di kota yang jauh dari tempat saya tinggal. Kami memang belum pernah jumpa tapi kami sudah mengenal melalui media sosial. Hahaha!

Baru satu motor, kita butuh 2 motor lagi.. horey ada 1 motor lagi yang datang, mas Pandu namanya. Nah gw kenal Pandu juga dari group whatsapp. Kang Udin sang pemilik rumah datang sekitar jam 6. Hahahaha

Melaju dengan lancar ke rumah Kang Udin, rumahnya dekat Bandar udara Juanda hahaha. Berkali-kali kaget karena suara pesawat yang mau take off atau landing begitu keras. Hahaha! 

Rencananya pagi ini kita mau wisata kota, pertama ke hutan mangrove Surabaya. Awalnya saya ga tau, klo ternyata disini ada beberapa spot hutan mangrove, tapi karena keterbatasan waktu kami hanya datang ke 1 spot di dekat KAMPUS… 

Saat tiba tanpa buang waktu saya langsung melangkah ke hutan tersebut, wah ternyata banyak sekali pengunjung yang wisata kesini. Sebelum jalan-jalan, Kang Udin ngajak kita makan LONTONG yang pake kerang kecil-kecil (lupa namanya) … Saya tidak memesan karena saya bukan tipe orang yang berani mencoba makanan. Hahaha aman sih saya beli rujak cingur Surabaya aja. 
 Penampakan Lontong
Penampakan Rujak 

Abis liat fotonya pasti pembaca penasaran sama rasanya, ehm bayangin ya bayangin. Thu penampakannya kayak gitu, rasanya ehm kayak makan udang rebon tapi versi amis. Kunyah aja, berasa kering nah untuk penambah rasa coba mix sama rujak cingur gw yang rasanya kepedesan hahaha.

Kesotoyan gw bilang pedes berakibat kepedesan beneran. Huh! *inget Cit inget, besok nanjak jaga perut*

Makan siang selesai, lanjut eksplor mangrove, susurin track untuk pejalan. Jalannya berupa kayu-kayu gitu. Ciri khas hutan mangrove biasanya jalannya emang kayak gitu
 

 Penampakan bagian depan mangrove

Trus jalan, adem mamen. Serius adem, kalo ada yang nanya ada tempat adem di Surabaya? Saya jawab ada. Salah satu yang pernah saya kunjungi ya hutan mangrove itu. 

 Penampakan hutan mangrove

Liat kanan-kiri kita bisa liat pohon-pohon mangrove. Oh iya, mangrove thu gampang banget lho nanamnya, klo ga salah batangnya cukup ditanjapkan ke dalam tanah aja, nanti akan tumbuh dengan sendirinya. 

Ini daerah konservasi mangrove dalam kota, mangrovenya masih kecil-kecil. saya pernah liat hutan mangrove yang jauh lebih rindang dibanding ini. Saya liat di taman nasional Baluran. 


Hutan mangrove baluran
Sedikit tindakan kecil untuk daerah konservasi sangat baik untuk kebaikan besar dikemudian hari.
Karena jalannya buntu,jadilah kita balik lagi. Eh tapi mas Ian malah ngajak ke gazebo disana. Menurut mas Ian, disana ada gazebo yang enak banget buat tempat ngobrol, tapi jalannya lewat sawah dan jauh.

Sebenarnya ada pilihan lain, selain lewat sawah yang jalannya memutar dan sekitar ±1 jam, kita bisa naik perahu dengan biaya Rp. 25.000,-

“jalan gpp mbak?”
“gpp, lanjut aja. Itung-itung pemanasan” hahaha

Bukan maen jauh aja ternyata hahaha, tapi jangan salah view yang kita nikmatin bagus,tambak-tambak ikan sepanjang jalan. 



 View sepanjang jalan

“eh itu gazebonya” Mas Ian berseru
Begitu mendekat ternyata bukan, tapi sudah memasuki jembatan dari bamboo dan rotan, hati-hati melangkah. Klo kecebur bisa repot urusannya. Baiklah, tanpa komanda saya memilih menunduk untuk memperhatikan jalan. Hohoho

 Foto di jembatan bamboo

Akhirnya setelah cukup jauh jalan, sampe juga di Gazebo itu. Ga sia-sia jalan jauh, ternyata tempatnya emang enak. Enak buat wisata keluarga. Bawa makanan dari rumah, tidur-tiduran, ngobrol.. hahahahah *piknik*


 Foto di gazebo

Disitu juga banyak pengunjung lain yang kesitu naik perahu. Hahahaha! 
Sebuah siasat buruk melintas di otak, pulangnya kita naek perahu aja yuk? Ga bakal diperiksa ini tiketnya. Hahahahaha! Gw lupa siapa yang pertama kali kepikiran kayak gitu. Dan ternyata semua sepakat. Hahahaha gebleks.
Kalian tau apa yang kami lakukan? Hahahaha! Iya kami naik keatas perahu dengan perasaan??? Duhhhh saya susah mendeskripsikannya. Semua naek dan pada tidur, bah gw mana bisa tidur walaupun asli gw juga ngantuk banget. Hahahaha
Klo Cuma disuruh bayar sih ga jadi soal, lah yang ga nahan itu malunya, hahahaha

Hahaha selamat sodara-sodara. Hahahaha berakhir dengan ngakak hahaha.
Berlalu dari hutan mangrove, kita makan mie setan dan mie iblis. Setdah namanya? Hahahaha serius beneran itu namanya.
Menurut info dari kang Udin, tempat makan ini baru buka jam 4 dan sungguh, sungguh mengejutkan jam 16.30 antriannya kayak ular. Astagfirullah. 

 Foto antrian.
Kenapa disebut setan dan iblis entah lah ya,
Ini menunya.
Gw pilih mie iblis dengan cabe 5 aja. Berarti 1/2 S. hahaha
Ga boleh sotoy, tadi udah kepedesan gara-gara rujak cingur. 
 Foto penampakan mie setan dan mie iblis



Eh iya nama-nama minumannya juga lucu-lucu. Ada es pocong, es gendrowo, es kuntilanak. Hahahaha
Sekarang boleh ketawa, lusa saya ketemu penampakannya di gunung arjuno. Bisa dibaca di tulisan saya yang ini. BLOG ARJUNO!! Cekidot Here
Beres makan, lanjut ke Taman Bungkul, taman terbaik se asia tenggara. Bukan maen, hebat sekali ya kota metropolitan kedua setelah Jakarta ini. 

 Penampakan Taman Bungkul
Ramai sekali, bersih, rapi, ga salah kalo disebut taman terbaik.
Badan sudah lelah. Dan sepertinya kami memutuskan untuk beristirahat lebih cepat. Maka kami kembali ke rumah kang Udin. Mas Ian kembali kerumahnya, dan kami packing untuk pendakian esok.
Lanjutan trip ini bisa dibaca di judul yang ini... hohohoho

Senin, 06 Januari 2014

Gunung Arjuno via Lawang

Ini serangkaian Long trip penutup tahun saya. Pagi ini tujuan kami adalah Gn. Arjuno di Malang. Saya dan kedua teman saya diantar Kang Udin ke Terminal Purabaya – Surabaya. Kami masih menunggu satu kawan lagi dari Jakarta, namanya Kico. Tepat jam 6 kami tiba di terminal dan kami segera berpamitan dengan kang Udin. 

Hari ini 26 Desember 2013, kami ber 4 dengan bis Surabaya-Malang turun di Pasar Lawang dengan ongkos bis Rp. 10.000,- Masih pagi sekitar 07.30 kami tiba di pasar Lawang.

Berdasarkan kesepakatan awal meet point pertama ya di Ps Lawang, jadi sembari menunggu rombongan team Dea. Saya dan Yunie belanja logistik untuk keperluan pendakian. 

Di Pasar Lawang kayaknya hampir semua ada, seperti biasa urusan logistic need gw yang bikin list, dan temen-temen gw biasanya ngasih masukan lain. di List gw udah cihuy banget dah, persiapan mau masak-masak diatas kayaknya udah kebayang diotak gw. 

Mulai dari RENCANA bikin sayur Sop, bikin Bakwan, bikin Oseng-oseng, nasi liwet , wedang jahe yang asli dari jahe asli, beuh! jelas banget dibayangan gw. Itu kan baru rencana, implementasinya kita sesuaikan dengan kondisi lapangan. Hahahaha!

“Ceu beli Lontong deh buat makan siang”
“Roti juga jangan lupa”
Sedikit obrolan calon emak-emak yang belanja di pasar tradisional. 

Sekitar jam 9 pagi, rombongan Dea datang dengan “BMW klasiknya” hahahaha! Indak lain dan ga salah lagi maksudnya dengan angkot sewaan dari Malang. Trayek yang terpajang dibelakang angkot yaitu AMG (Arjosari, Mergan, Gadang)

            Hahahaha! Baru jalan sebentar mobilnya ga kuat nanjak, walhasil para kaum Adam harus turun dari mobil dan dorong thu mobil. Hahaha! Anggap aja pemanasan yang kepanasan. 

            Sekitar jam 10 pagi kita tiba di pos Registrasi Lawang, disini kita harus 2x registrasi. Pertama registrasi pendakian dan kedua registrasi wisata di kebun teh. Biayanya Rp. 8.000,- dan Rp. 5.000,- per orang.
Oiya ketua team juga harus meninggalkan fotocopy ktp, berhubung cuma gw yang pnya fotocopy ktp walhasil gw dah yang dijadiin “KETUA”. Hahahaha! 

“ketua” klo ketua beneran apa kabar anak buah gw yak? Ga usah dibayangin, pemimpinnya absurd kayak gw ya anggotanya ga beda jauh lah ya. 
  Kertas registrasi pendakian Gn. Arjuno

Selain kertas registrasi, dibagian bawah ditulis juga contact person pos registrasi Lawang (0813-3078-7722) + fotocopy peta jalur Lawang tapi sayangnya fotocopyannya ga jelas. Mungkin udah berkali-kali di fotocopy ulang.

 Peta yang ada di belakang kertas Registrasi

Repack lagi isi tas masing-masing, yang sedikit menggelitik pas Bapak bongkar tasnya om Edi, setdah! Isinya baju selemari kayaknya, 

Gw yang baru pertama kali ketemu om Edi secara spontan ngomong. 

“weh mau kemana om? Itu tas ngapa isinya baju doang?”

Yang ditanya Cuma berani nyengir, bukan maen!

Tenang bullyan gw perihal tas dengan baju selemari ga berakhir disitu, dari naek sampe turun thu tas jadi korban ledekan gw. Hahahaha! 

Coba kalian bayangin dah, track Lawang itu track tanpa sumber air, di masing-masing tas diisi dengan 3 Liter air. Eike  yang perempuan aja bawa stok air di tas, yekali thu tas Cuma diisi baju doang. 

Edun juga bawa baju agak banyak tapi edun packing di gulung jadi spacenya masih banyak yang kosong dan bisa bantu bawa air dalam jumlah lebih banyak.

Tips untuk para pejalan yang mau Long trip, ga ada salahnya bawa baju agak banyak tapi perhatikan cara packingnya. Saran gw, baju di gulung masing-masing dan diikat dengan tali. Trus masukin ke plastic klip deh, yakin spare yang dibutuhkan ga sebanyak kalo packing baju hanya ditumpuk jadi satu. Hahahaha!



Pos Registrasi Lawang
Sekitar jam 11 siang, pendakian dimulai. Sempatkan memulai pendakian dengan membaca doa. Klo ritual gw, sebelum nanjak, gw usahain telepon ke rumah, ngabarin ibu gw klo kita baru mulai mendaki. Plus kasih tau estimasi kapan turun. Di rumah juga gw ninggalin beberapa kontak temen-temen yang nanjak bareng, khawatir provider gw ga dapet signal.

1 jam berlalu dan kita tiba di pos 1.pos 1 itu Bedengan tempat istirahat para pemetik daun teh. Bongkar makan siang, masih menu kota hasil bekal beli di pasar Lawang + bekel ibu dari Jakarta. 
 Pos 1 Gunung Arjuno
Makan siang di pos 1
Jam 1 pendakian dimulai lagi, jalan sekitar 1.5 jam kita sampai di pos 2. Ada bangunan rumah juga. Didepannya ada tanah landai bisa digunakan untuk mendirikan tenda.  Pos 1 ke pos 2 masuk kedalam kebun, ada pohon alpukat,rambutan, dll berasa di kebun kakek. 
   Pos 2 Gunung Arjuno 

Track tanah lumut, hati2 licin dan jarang ada pegangan juga. Nyesel gw ga jadi beli tracking pole. Ga ada tracking pole, “kayu sakti” pun jadi. Hahaha!

Dari pos 2 selanjutnya savana, berdasarkan info di savana itu tracking selama 3 jam baru sampe pos 3. Sekitar 1 jam berjalan, kita tiba di hamparan ilalang dengan rerumputan tinggi. Seketika hati bersorak. “katanya 3 jam, lah ini udah savana”

Baiklah itu belum masuk savana, baru menjelang savana. Luas dan menanjak, lagi-lagi tanpa bonus. 
 Savana Gn. Arjuno

Alam tidak pernah dusta, hanya ketidaktauan manusia, maka manusia menjadi sombong. 

Bukan maen sampe magrib pun kita masih di savana. Solat magrib di sana, sambil duduk memandang city light jalan raya Surabaya – Malang, plus taburan bintang dilangit. Subhanaullah, Indah nian. 

Mulai dingin dan pendakian dimulai lagi, jam 20.30 kita tiba di pos 3. Pos Mahapena. Epic ya namanya. Sama epicnya dengan pemandangan yang disuguhkan dari pos itu. 

Di situ kita ketemu dua pendaki yang turun dari tretes. Mereka bilang turun dari puncak 16.30 dan baru sampe pos 3 jam 20.00. weh turun aja 3.5 jam. Apalagi naeknya?? *talk to self*

Pas ketemu kita, dua pendaki itu senengnya bukan maen, raut muka ga pernah bohong sodara-sodara. Dan kayaknya gw terbiasa membaca raut muka orang, jadi gw dengan cepat tau kalo 2 pendaki itu seneng ketemu kita. Atau kasarnya ketemu pendaki lain selama pendakian. 

Menurut dugaan gw, mungkin saat turun mereka ketemu yang “bukan Manusia” atau ketemu hal lain. ini bahaya, di gunung bisa stress kalo kondisinya kayak gitu. 

Mereka dengan berbaik hati membagi makanan, ngebuatin kita api unggun plus nawarin  cowo-cowo untuk gabung di tenda mereka klo kurang space tenda. Mereka 2 mahasiswa Brawijaya. 

Sebelum istirahat, ibu ngobrol sama gw. 

“mb, start jam berapa nih?’’

“pos 3 ke pos 4 kira-kira 3 jam, pos 4 ke puncak 2,5 jam (ngosong)”

“mau jam 12 malam mb?”

“jangan deh bu, jam 2 pagi aja”

Akhirnya sepakat nanjak lagi jam 2 pagi. Masuk tenda dan tidur. Deuhilah bukan maen, dinginnya ga sopan. Gw ga bisa tidur, walhasil duduk aja dalam tenda. 

Dea : “ka, Kenapa?”

Gw : “ga kenapa-kenapa, ga bisa tidur, akunya ga tahan dingin”

Kemudian Dea balik badan dan lanjut tidur. Hahahaha! Gw kira mau nemenin gw. Hahaha!

Gw tau jam 2 pagi udah ada yang bangun. Klo ga salah si Om Edi. Asli yam ager banget. Walhasil jam 4 baru pada bergerak. 

Keterlambatan kami disuguhi pemandangan indah dari Pos Mahapena. Sunrise dibalik gunung Semeru. Dengan puncak Mahameru jadi tontonan menarik untuk kami. 

 Sunrise dari pos 3, Mahapena - Gn. Arjuno

Jam 05.30 pamitan sama 2 pendaki dari Brawijaya dan sampe pos 4 sekitar jam 9 pagi. Tracknya masih sama. Tanah berlumut dan kadang berbatu. Sekali lagi jangan berharap bonus di track Lawang. 
 Puncak Arjuno dari pos 4

Pos 4 Gunung Arjuno
 Begitu sampai pos 4, bapak mulai drop. Beliau tanya “masih mau lanjut atau gimana?”

Satu persatu ditanya, dan klo ga salah denger mayoritas jawab “terserah” dan tibalah giliran gw yang ditanya.

Setengah sadar, si bapak manggil gw “seleb gimana?”

Hahaha! Setdah dikata seleb. Seleb gunung kali yak! 

“Dari pos 3 ke pos 4 aja saya udah setengah hati pa, seandainya pun kita ke Welirang, saya ga akan ikut muncak”

Keputusan akhir, kita batalin nanjak Welirang dan turun kembali ke Lawang. 

Jam 10.00 bapak-ibu milih stay di pos 4. Tadinya om Edi juga mau stay. Tapi doi akhirnya ikut setelah dapet “kompor” dari gw. Hahahaha! Gw emang berbakat jadi kompor kayaknya. 

7 orang nanjak. Masih beriringan, karena rute kita kali ini masuk hutan dan tanpa bapak-ibu jadi kita usahakan jalan berdekatan. Tapi fisik ga bisa disamakan, gw sama yunie ketinggalan, dan pasti teriak-teriak klo udah ga keliatan.

Memasuki cemoro sewu (berdasarkan peta) vegetasi pinus yang rapat. Hutan berasa milik pribadi. Berasa jauh karena batas vegetasi tak kunjung Nampak.


Cemoro Sewu ( Lali Jiwo )
Ditengah track hutan pinus, kita liat 3 lutung hitam besar. Terasa aneh, koq diketinggian ± 3000 mdpl ada hewan. Disana itu hutan pinus, ga ada tumbuhan buah, sumber air juga ga ada. Tapi koq ada lutung? Seharusnya klo ada pun, mungkin ketemunya di bawah. *tolong dikoreksi, perihal batas fauna terutama Tempat hidupnya Lutung di Gunung atau diketinggian tertentu*

Masih lanjut, berikutnya Pelawangan, ladang terbuka dan menanjaknya makin parah. Yunie, Edun, Om Edi stay di situ. Mereka ga kuat lanjut. 4 orang, Citra, Dea, Ponco, Kico lanjut buat muncak.


Sebelum memutuskan muncak, Ponco nanya “mau nerus atau gimana?”

Gw : “terus aja, nanggung”

Ponco : “klo jam 1 ga sampe puncak gimana?”

Gw : klo jam 1 mah ga bakal sampe, feeling gw jam 13.30 baru sampe”

Ponco : “oke, klo jam 2 belum sampe kita turun”

Gw : “oke, berangkat!”

Kabut turun lagi, ah begitu sampe atas pun kabut seakan tak mengijinkan kami menikmati indahnya puncak. Kamera saya ada di Edun, dan dy ga muncak. Saya juga lupa buat minta kamera dari dy. Ahh sudahlah


 Pelawangan Gunung Arjuno

Kami cuma dapat foto ini entah dari ketinggian berapa.  Foto ini diambil sedikit dibawah puncak.





Sekitar 5 atau 10 menit kita turun ke Pelawangan. Lanjut turun ke pos 4. Belum jauh dari Pelawangan kabut turun lagi, dan seketika ada selapis tipis dengan mata menghitam tidak jauh dari kami.
Dea : “ ka, itu apa?”

Gw : “ah, layer doang itu. Lanjut aja jalan”

Entah sadar atau tidak sadar, entah menutupi ketakutan gw atau entah kenapa gw jawab begitu. Padahal jelas banget itu thu mb kunti. Setdah! Siang bolong diliatin begituan. 

Boro-boro kepikiran lari, badan udah capek, lemes pula. Tapi anehnya dari puncak ke pos 4 cuma 45 menit. Bukan maen! Cepet kali. 

Sampe pos 4 ditanyain sama ibu, “gimana diatas?”

“batu doang ama kabut bu”

“pas Lewat LALI JIWO gimana?”

Citra : “hah? Emang lali Jiwo yang mana? Perasaan di peta adanya cemoro sewu”

Ibu : “ya itu Lali Jiwo”

Setdah! Gw ga sadar ternyata tempat ketemu sama mb Kunti thu di Lali Jiwo. Klo tau itu Lali Jiwo, gw ga mau dah jalan dibelakang. Huft! Dan menjelang puncak atau lebih tepatnya tempat kita foto mungkin itu yang disebut pasar setan. Bukan maen!

Lupakan! Track turun masih jauh. Sekitar jam 16.00 tanggal 27 Desember 2013 kita turun dari pos 4 ke pos 3. Stabil, turun sekitar 1 jam. Di pos 3 istirahat lagi, bapak bilang lanjut aja, mungkin jam 9 malam udah sampe pos Registrasi. 

Begitu gelap kita masuk ke Savana, Kico sedikit ragu karena kalau malam hewan-hewan pada keluar dari Savana. Gw juga ragu, teori itu emang bener, tapi bapak bilang lanjut aja. *mengingat stok air sudah habis*

18.30 lanjut turun, Edun di posisi depan. Tracknya bebatuan, asaan pas nanjak kemaren ga lewat yang begitu. Tapi Edun yakin jalannya bener. Tapi 2 jam jalan, perasaan ga sampe-sampe. Masih aja di savana. Seinget gw 3x, Kita cuma muter-muter di situ. 

Tiba di cabang putusan, ke kanan ada jalan dan lurus ada jalan. Nah disitu gw denger ada yang ngobrol dan ketawa. Edun juga denger, dy bilang “kayaknya disana ada orang”

Si ibu baca doa dulu, kemudian nunggu bapak, dan Kita ambil jalan yang lurus. Seperti biasa patokannya “SAMPAH BUNGKUS MAKANAN” 

Aneh memang, tapi yang terjadi dilapangan seperti itu, kadang ada pita ( petunjuk wajar ) atau liat tanah apa ada sampah atau jejak kaki. Hahahaha!

Sepanjang jalan posisi rapat, gw dibelakang ibu, dan belakang gw kosong. Ada 3 orang dibelakang tapi jaraknya jauh sekitar 20-30 meter. Bapak ga bisa jalan lambat, nahan jalan lambat bikin pundaknya sakit. Walhasil kita kasih jarak. 

            Sepanjang jalan, di tanah atas berasa ada yang ngobrol. Om Edi juga ngomong sama gw. “Kayaknya Kita harus keatas deh, thu denger ada yang ngobrol”. Tapi Kita tetap jalan sesuai jalur, Alhamdulillah sekitar 20.30 Kita sampai pos 2 dengan kondisi kelelahan dan kehausan. 

Di Pos 2 ada 1 tenda, ibu sama Edun minta minum kesitu. Niat cuma minta 500 ml malah dikasih 1.5 liter. Katanya sih mereka lagi Honey Moon. Uhuy honey moon di Mt. Arjuno. Hahahhaa!

Tapi mereka baik banget, gw doain semoga jadi keluarga Samara plus cepet dikasih momongan. Amin! 

Jam 21.00 lanjut turun, track tanah jalur air untuk turun itu lebih susah. Kenapa? Ya karena licin lah! Hahahaha seinget gw, gw 2x jatoh. Kotor dah celana gw. Hahahaha! Yunie sedari Savana udah lambat banget, dy kayak ragu buat melangkah. Gw tanya kenapa, katanya gpp Cuma kecapekan. Tapi jalannya beneran aneh, kayak jalan pake heels di jalan yang becek. *sok dibayangin*

Berkali-kali Dea bilang sama Ibunya, “Bu sakit nahan mulu” ibunya bilang “yaudah Dea didepan ka Yunie aja” posisi berubah Kico-Edun- Dea- Yunie- Ibu- Gw. Lama-lama si ibu mulai bete + emosi juga gara-gara si Yunie lama. Walhasil ogut bilang “yaudah bu duluan aja” hahahaa! Lama-lama ogut juga capek, eh yunienya makin jauh. BREAK dah!

Break lagi break lagi! Lama-lama gw yang drop dah, secara gw bawa air minum 500 ml nah itu buat ber 5. Gw kebagian bawa doang, minumnya indak kebagian..huhuhu

Tak apa lah, yang penting cepet sampe jangan kebanyakan berhenti. Memasuki kebun Teh making a jelas thu Jalur. Nah Edun pindah di belakang gw, ga lama setelah Edun pindah gw liat di sebelah kanan ada om Pocong numpang eksis. Ga kira-kira 3 pocong. 

“Dun, liat dah itu thu?”

“apan? *sambil nengok kanan-kiri * 

“Noh! *sambil ngarahin headlamp Edun ke arah om Pocong*”

“Astagfirullah”

Hahahaha! Posisi di kebun Teh sekitar jam 23.30. gw setelah liat ga berani lagi nyenterin kanan-kiri. Nunduk weh biar aman.

Aman sampe pos 1, di pos 1 ke pos registrasi itu jalurnya jelas, nah disitu aja masih diputer-puterin. Walhasil bapak emosi, biasa lah selisih salah ambil jalur, cuma asli gw juga kesulut emosinya. 

            Ponco sama Edun cari jalan duluan, sekitar 30 menit ponco dianter pa Satpam nyamperin kita dengan botol-botol aqua yang entah isinya air apan. Hahahaha! Gw ga peduli, minum aja dah, air Rahmat selalu sehat. Hahahaha!

            Tepat jam 01.30 pagi tanggal 28 Desember Kita sampe di pos Registrasi. Duduk selonjoran di depan pos Satpam. Jam 02.30 gw mau ke Toilet. Katanya Toiletnya ada di Mesjid. Yaudah gw minta anterin Dea ke Mesjid. 

Baru 20 meter dari pos Registrasi gw teriak “Dun, mesjidnya dibelokan yang mana”

Belum juga Edun jawab, kemudian ada bunyi *gedebug* persis kayak bunyi kelapa jatuh. 

Dan Dea langsung lari ke arah pos sambil teriak “ka, itu Rambut”

Gw masih melenggang jalan biasa aja, bukan ga denger tapi gw thu orangnya jarang mikir yang aneh-aneh. Di otak gw mikir, ah paling Kelapa. 

Tapi setelah berlalu, gw baru sadar. Itu kan kebun Teh, disekitar situ ga ada pohon kelapa atau pohon lain yang berbuah. Dan ga ada bekas ranting atau apapun yang jatoh. Walhasil gw simpulin beneran itu mah Kepala makhluk lain. Dea bilang itu kepala Genderuwo. Huft! Untuk kesekian kalinya. 

Jam 3 makanan yang dibeli bapak datang juga, weh ilah makan kayak ga ketemu nasi sebulan aja hahahaha! Nafas wey nafas. Jam 4, sewa pick up turun ke pasar Lawang dan lanjut naek elf ke Malang. Selanjutnya kita Liburan di Malang. Untuk liburan di Malang nanti saya tulis dicerita selanjutnya. Hahahaha!

Kami ber 3 pulang tanggal 31 Desember 2013  naek kereta menuju Jakarta. Taun baruan liat kembang api di Kereta. 03.30 tanggal 01 Januari 2013 sampai Jakarta disambut hujan deras. 

2 hari kemudian, salah satu sahabat Saya cerita lagi sakit. Maunya tidur mulu, trus dy ke bu haji ceunah kata bu haji temen saya diikutin nenek-nenek. Huft! Perihal ini saya tidak mau mendetail, cukup deskriptif aja.

Udah di Rumah masih aja ya! Bukan maen!  Percaya tidak percaya. Di Islam pun Kita wajib percaya sama yang Gaib. Saya juga percaya kalau yang Gaib itu ada, tapi perihal sampe diikutin gitu perdana dalam sejarah baru kejadian ini berasa deket dan nyata. 

Kita memang beda dimensi dan punya alamnya sendiri, sudah sepatutnya tidak saling mengganggu dan berpikirlah positif saat berada di Alam. Semua makhluk ciptaan Allah, semua sama dan berada di tempatnya masing-masing. 

“Ketinggian bukan menjadi prioritas pendakian, jalinan persahabatan, kekeluargaan jauh lebih berarti daripada tujuan pendakian itu sendiri. Sapalah Alam dengan bijaksana, maka kau akan menikmati kebijaksanaan Alam.Perihal hal mistis itu Saya anggap sebagai bonus”

 @citno di Gunung Arjuno
26 - 28 Des 2013